Berhenti memakai krim dokter (?) Part II

July 29, 2016
Perawatan masih rutin aku lakukan sampai aku selesai kuliah dan balik ke Madiun. Actually i got job in semarang after graduation, but i didn't take it. For some reason i cameback to Madiun, and finally got job here. I love this job, and i still doing great there till now.

Tapi saking keasikan kerja, pulang sore, aku menjadi malas melakukan perawatan. Dan puncaknya adalah saat krim pagiku habis, aku menunda nunda untuk pergi ke larissa dan pada akhirnya berakhir dengan aku tidak membeli krim pagi lagi.

Fyi, when i stopped do facial, it doesn't really matter. But when i stopped using morning cream...
Terrible live has begun...

Kesalahanku adalah aku berhenti memakai krim secara tiba-tiba, sehingga kulitku belum siap menerima perubahan tersebut since i've been using it for a long time.

Meskipun aku masih menggunakan produk perawatan lainnya seperti facial foam, cleanser, dan toner ... they didn't help a lot.
Sehari, seminggu, dua minggu aku pergi ke kantor tanpa menggunakan apapun. Just puk-puk-in some loose powder ke muka. 

Dan jerawat pun beranak pinak di area dahi, dan pipi. To be honest selama aku make krim aku sangat jarang memiliki jerawat dengan ukuran yang besar dan disertai bengkak di area pipi. I start to search on google what's wrong with my face and what kind of skin care product that can help me to end this war.

Aku sempat berkonsultasi dengan tanteku, meskipun dia melakukan perawatan tapi dia menolak segala jenis krim dokter yang diresepkan. Pada dasarnya pelembab yang biasa dijual di pasaran dan krim dokter memiliki komposisi yang berbeda. Produk di pasaran adalah kosmetik, sedangkan krim dokter memang obat (memiliki dosis) sehingga sudah otomatis kandungannya akan lebih keras krim dokter.  (Just correct me if i'm wrong, this was just what my aunty said to me)

Dan iya, bila dibandingkan dengan pelembab biasa, krim dokter memberikan efek yang maksimal dan jauh lebih cepat. Ketika kamu membeli pelembab di pasaran, kamu akan tau apa saja yang terkandung di dalamnya, sedangkan krim dokter? Can you see what is the inggredients of it (?)

Namun aku tidak serta merta mengatakan bahwa menggunakan krim dokter adalah keputusan yang salah. Ketika dokter meresepkan krim kepada kita, tentu saja hal itu sudah disesuaikan dengan jenis kulit kita dan masalah apa yang ada di wajah kita. Ketika wajah kita bermasalah dan krim dokter adalah solusinya? Maka ketika kita berhenti menggunakannya tentu masalah itu akan kembali lagi. Intinya kalian make krim itu karena memang kalian butuh.
Jadi pergunakanlah sebijak mungkin.

Boldly, sampai saat ini aku masih ke larissa untuk facial, larissa is doing well.  But i decided to stop using krim pagi dan beberapa produknya. Wisely.
Jadi aku membiarkan kulitku beristirahat selama 1 bulan tanpa menggunakan produk apapun. (Bertahan dengan kulit berjerawat selama satu bulan bukanlah hal yang mudah T.T).


Baru kemudian aku mulai menggunakan pelembab yang sekiranya dapat mengatasi jerawat di wajahku. And my choices end up in Tea Tree Skin Clearing Lotion dan Vitamin E Moisture Lotion SPF 15.

I'll write the review of Vitamin E Moisture Lotion SPF 15 as soon as i finished my monthly report documen in office.

Have a really nice day!!

Note:
Stop using doctor creams is not an easy thing to do. Pastikan kalian melakukan review terlebih dahulu sebelum menghentikan pemakaian krim atau hendak menggantinya dengan produk lain.

Akan lebih baik bila berhenti memakai dokter dengan melepasnya pelan pelan. Misal apabila kamu terbiasa memakainya setiap hari maka ganti menjadi dua hari sekali, dan seterusnya hingga benar-benar berhenti.

Penting!
Beri waktu untuk kulit untuk menetralkan keadaannya, paling tidak 1 bulan. Setelah itu baru mulai menggunakan produk yang baru.

No comments:

@rynryani. Powered by Blogger.